Monday, March 2, 2009

TEOLOGI LINGKUNGAN HIDUP: Gereja dan Lingkungan Hidup

GEREJA DAN LINGKUNGAN HIDUP[1]
Beberapa Catatan tentang Tanggungjawab Gereja terhadap Lingkungan Hidup

Oleh : Stanley R. Rambitan[2]



Pendahuluan

Lingkungan hidup dan permasalahannya sudah menjadi pusat perhatian dan keprihatinan dunia. Ada hari lingkungan hidup se dunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni, yang biasanya ditandai dengan perayaan dan program perawatan dan pemeliharaan alam, antara lain reboisasi dan pembersihan dan penataan lingkungan. Berbagai bencana alam yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, seperti gempa bumi, tsinami, banjir, tanah longsong, angin topan, dsb, membuat masyarakat internasional memberikan perhatian kepada lingkungan hidup secara lebih khusus lagi. Perjuangan untuk mencegah pengrusakan dan penghancuran bumi atau lingkungan hidup, yaitu darat, laut dan udara dilakukan terus-menerus oleh masyarakat atau lembaga-lembaga, baik nasional maupun internasional; pemerintah maupun non-pemerintah. Green Peace adalah lembaga internasional dan non-pemerintah yang terkenal dalam perjuangannya di bidang ini. Di Indonesia, ada lembaga non-pemerintah, yaitu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) yang melakukan perjuangan ini. Bumi, alam atau lingkungan hidup dan permasalahannya menjadi perhatian utama manusia karena manusia hidup di dalamnya, mengalami dan menikmati segala sesuatu yang ada dan dihasilkan olehnya. Jika apa yang ada dan dihasilkan bumi itu baik dan berkualitas, tentu baik pula kehidupan manusia, seperti kesejukan, kesegaran, kesehatan, keindahan dan kenikmatan. Kebaikan itu dapat dialami dan dirasakan tentu jika bumi atau alam dimanfaatkan dan dirawat atau dipelihara dengan baik pula. Namun demikian, kenyataanya, keadaan alam saat ini menunjukan keadaan yang memprihatinkan. Alam dan lingkungan hidup menunjukan permasalahannya yang mengganggu kehidupan bumi dan manusia.
Apalagi sudah nyata sekali gangguan ini pada tahun-tahun terakhir ini. Banyak bencana alam yang dahsyat melanda bumi ini, khususnya di beberapa daerah di Indonesia. Gempa dan tsunami di Aceh pada hari Minggu, 26 Desember 2004, memakan korban seratus lima puluh ribu lebih manusia meninggal dan puluhan ribu menderita kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, pekerjaan dan hidup dalam keadaan sulit merupakan bencana terdahyat. Pada hari Sabtu, 27 Mei 2004 gempa bumi tektonik terjadi di Jogjakarta dan Jawa Tengah yang menelan korban jiwa sebanyak kurang lebih lima ribu jiwa dan belasan ribu orang menderita dan kehilangan tempat tinggal. Berapa waktu setelah itu, terjadi bencana banjir Bandang di Sulawesi selatan dan beberapa daerah di Kalimantan. Selanjutnya, pada hari Senin, 17 Juli 2006 terjadi lagi bencana tsunami di pesisir pantai selatan Jawa yang sebagian besar di daerah Jawa Barat, khususnya di Pangandaran dan sekitarnya dengan korban jiwa sebanyak kurang lebih lima ratus orang dan ribuan orang menderita atau kehilangan tempat tinggal. Belakangan ini di banyak daerah di Indonesia, terjadi bencana banjir. Terakhir di tahun 2008 ini, di banyak daerah di bumi ini terjadi berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, tanahk lonsor, banjir dan angin taufan. Issue belakangan ini yang menjadi pusat perhatian masyarakat internasional adalah global warming atau pemanasan global. Gejala alam ii dianggap sebagai penyebab terjadinya berbagai becana alam belakangan ini.
Dalam kondisi dunia dan lingkungan hidup dengan berbagai permasalahannya, orang Kristen atau gereja hadir dan menjalankan tugas panggilannya. Apa dan bagaimana seharusnya gereja memandang dan menyikapi alam atau lingkungan hidupnya? Apa tangung jawab kita (sebagai gereja) yang hidup di dalamnya dan yang memanfaatkan hasil-hasilnya? Juga, bagaimana kita memahami dan menyikapi berbagai bencana dahsyat yang terjadi?
Di bawah ini akan dibahas dasar-dasar pemikiran untuk gereja (orang Kristen) memandang, menyikapi, memanfaatkan dan memelihara alam ciptaan Tuhan.


Alam Semesta dan Manusia dalam Pandangan Alkitab

Dasar pemahaman Alkitabiah mengenai alam semesta adalah cerita penciptaan yang tertulis dalam kitab Kejadian (pasal 1 dan 2). Jelas sekali ditunjukan di sini bahwa alam semesta atau dunia dengan segala isinya adalah ciptaan Allah dan karena itu segala ciptaan adalah milik Allah. Penciptaan dilakukan atau dunia ini diciptakan dalam rangka menunjukan atau menjadi bukti bahwa Allah itu Ada dan Berkuasa. Dalam Keluaran 3, Allah memperkenalkan diriNya sebagai YHWH (TUHAN, artinya AKU ADALAH AKU DAN YANG AKU ADA). Dia berada dengan kepenuhan kuasa mencipta (sebagai Khalik) yang tidak dimiliki oleh siapa pun, termasuk manusia yang diciptakanNya (sebagai mahluk). Jadi keberadaan dunia menunjukkan kemaha-kuasaan Allah. (Karena itu, alam semesta dapat memperlihatkan gerak-gerik yang menunjukkan kemaha-kuasaan Tuhan itu dan yang tidak dapat dikontrol atau dikuasai oleh manusia, seperti gempa bumi dan gunung meletus). Maksud lain dari penciptaan itu tentu adalah bagi kepentingan ciptaan itu sendiri, yaitu alam lingkungan, tumbuhan, mahluk dan manusia.
Alam semesta yang diciptakan Tuhan terdiri dari berbagai unsur, seperti bumi atau tanah, air, udara/angin, tumbuhan, hewan dan manusia. Menurut Alkitab, manusia merupakan ciptaan yang istimewa. Ia diciptakan segambar dengan Allah (Imago Dei) yang berarti dia diberi atau memiliki sifat-sifat atau karakter seperti Allah dan yang memiliki kemampuan yang “hampir sama” dengan kemampuan Allah. Manusia diberi dan memiliki hikmat, akal budi, rasa keberagamaan atau kedekatan dengan Tuhan, kebebasan, kuasa dan kemampuan untuk mencipta dan membentuk (bersama-sama dengan Allah). Ciri Imago Dei secara khusus ditunjukan oleh nafas atau roh yang Tuhan berikan (tiupkan) kepada manusia ketika Tuhan selesai menciptakan atau membentuknya dari tanah.
Namun manusia diciptakan tidak menjadi oknum yang berdiri sendiri atau terpisah dari ciptaan lainnya. Secara material atau bentuk fisiknya, manusia menjadi bagian dari atau adalah satu dengan ciptaan lainnya. Ini ditunjukan dengan penciptaan manusia atau Adam yang diambil atau berasal dari tanah. Kata manusia (atau adam) dan tanah (atau adama) berasal dari akar kata Ibrani yang sama, yaitu dua konsonan dm. Begitu juga, Firman Tuhan mengatakan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali kepada tanah. Manusia dan kebutuhan hidup materialnya berasal dari tanah itu, sama dengan tumbuhan dan mahluk lain ciptaan Tuhan. Tidak hanya menyangkut kebutuhan itu manusia tergantung pada ciptaan lain, tetapi juga dalam hal pengembangan intelektual. Ayub 12:7-8, menyatakan bahwa manusia perlu bertanya kepada binatang, burung, ikan di laut dan bumi untuk mendapatkan pengajaran. Jadi manusia dan alam sesungguhnya adalah satu dan saling bergantung dan membutuhkan dalam berbagai hal.
Keberadaan manusia di tengah-tengah ciptaan lain memiliki peran dan tugas khusus. Ketika menempatkan manusia di dunia, Allah memberi keleleluasaan atau kuasa kepadanya untuk mengelola dan memanfaatkan alam ini (Kej. 1:26-31). Bukan itu saja, manusia ditugaskan juga untuk mengusahakan dan memeliharanya (Kej. 2:15). Di sinilah letak tugas utama manusia dalam alam ini yaitu untuk merawat dan memelihara atau menjaga keberlangsungan hidupnya yang tentunya diharapkan selalu baik adanya sebagaimana pada awal ia diciptakan. Dalam status dan fungsinya seperti ini, manusia lalu tidak hanya menjadi citra Allah tetapi juga mitra Allah. Sebagai mitra, manusia dipercaya atau menjadi perpanjangan tangan Allah dalam melakukan tugas menjaga keberlangsungan hidup alam semesta ini. Kepercayaan yang diberikan ini tentu menjadi kebanggaan bagi manusia itu sendiri.
Tuhan yang menciptakan manusia, Tuhan pula yang menyediakan kebutuhan hidupnya. Sebagai ciptaan dan citraNya, manusia diberi hak untuk mengelola dan memanfaatkan alam yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia diberi Tuhan dan memiliki hak guna alam. Ini merupakan hak ekonomis manusia. Namun sebagai ciptaan dan mitraNya, manusia juga diwajibkan untuk memelihara dan menjaga keberlangsungan alam supaya tetap baik adanya. Ini merupakan kewajiban ekologisnya. Jadi Tuhan menghendaki agar manusia, di samping mengusahakan pemenuhan hak hidupnya yaitu dengan mengelola dan memanfaatkan alam, juga sekaligus ia mengusahakan perawatan alam itu agar ia terus dan tetap memberi manfaat. Jadi hak ekonomis dan kewajiban ekologis harus berjalan bersama-sama atau seimbang. Apalagi ini bukan demi kepentingan alam atau lingkungan hidup saja tetapi juga untuk kepentingan manusia, yaitu agar kebutuhannya dapat selalu terpenuhi dengan baik. Dalam melaksanakan tugas sebagai mitra, yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk mengelola dan memelihara ciptaan milikNya, manusia bertanggung jawab paling utama kepada Allah, kepada alam atau lingkungan hidup beserta sesama ciptaan dan kepada manusia itu sendiri.

Lingkungan Hidup, Manusia dan Permasalahannya

Allah menciptakan alam semesta dan segala isinya sebagai sesuatu yang baik. Taman (lingkungan hidup) yang diciptakan di Eden adalah indah. Namun demikian, kenyatannya alam di banyak tempat telah menjadi tidak baik adanya; taman di Eden ini telah menjadi buruk rupa, menjadi tempat yang menakutkan untuk dihidupi. Alam semesta mengalami berbagai gangguan dan permasalahan. Misalnya, lobang pada lapisan ozon yang makin besar dan panas bumi yang meningkat, peningkatan percepatan mencairnya gunung es di daerah kutub, kekeringan di banyak tempat, berkurangnya dataran hijau atau menyempitnya hutan karena membesarnya daerah hunian manusia, tanah longsong dan banjir akibat pembabatan hutan (dan bahkan ancaman gempa dan tsunami), padatnya penduduk yang karena kegiatannya mengakibatkan polusi laut, darat dan udara, semakin banyaknya hunian kumuh dan liar, dan persediaan air bersih yang makin berkurang. “Indonesia di Ambang Bencana Ekologi”, demikian judul tulisan di harian Sinar Harapan (Selasa, 6 Juni 2006, hl. 16). R. P. Borrong, dalam bukunya Etika Bumi Baru (hl. 16) mengatakan: Planet bumi ini sedang menderita sakit, kurus dan terancam kematian! Itulah masalah besar dan bersifat global yang dihadapi umat manusia dewasa ini dan di masa depan. Itulah pula yang disebut krisis ekologis.

Masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh bumi dan manusia ini sudah merupakan masalah yang berat dan serius. Ia mengancam kehidupan dan keberlangsungan hidup alam semesta atau bumi dengan segala isinya, dan juga manusia. Banyak gangguan dalam hidup yang telah disebabkan oleh permasalahan-permasalahan di atas. Tidak hanya itu! Kebanyakan manusia (karena dosanya; karena perbuatan-perbuatannya yang buruk) telah menjadi sosok yang tidak indah dan menyejukan. Alam lingkungan dan manusianya kebanyakan sudah menjadi tempat dan keadaan yang tidak memberikan kenyamanan dan ketentraman untuk hidup.

Apa yang menyebabkan masalah-masalah itu?

Masalah-masalah alam atau lingkungan hidup di atas terjadi karena persoalan dalam pengelolaan, pemanfaatan dan pemeliharaan, dan yang berperan dalam hal ini tentu adalah manusia. Manusia memiliki peran paling utama dalam hal ini karena ialah yang melakukan usaha-usaha pengelolaan dan pemanfaatan alam. Di dalam praktek, kebanyakan manusia lebih mengutamakan kepentingan pemanfaatan atau aspek ekonomis, dan tidak memperhatikan pemeliharaan atau aspek ekologis. Ini disebabkan oleh ketidak-tahuan, ketidak-pedulian dan/atau ketamakan dan kerakusan yang betul-betul hanya mengutamakan keuntungan. Demi ekonomi, alam hanya dilihat pada fungsinya sebagai pemenuh kebutuhan manusia dan yang harus dieksploitasi dan dimanfaatkan semaksimal mungkin tanpa disertai pemeliharaan; dan bahkan sekali pun usahanya itu merusak alam.

Apa yang dilakukan manusia itu bertentangan dengan status dan tugasnya sebagai citra dan mitra Allah. Itu menyalahi kepercayaan yang Tuhan berikan kepadanya. Seharusnya, sebagai mitra Allah menusia melakukan tugas konservasif dan kreatif atau pemeliharaan dan penciptaan kembali alam ini secara terus menerus. Manusia seharusnya memelihara dan menjaga keberlangsungan alam itu, seperti memanfaatkan hutan tapi dengan menanamnya kembali; memanfaatkan hasil alam tapi tidak membuang sampah-limbahnya sembarangan; menata lingkungan agar di samping tampak indah dan menyejukan tapi juga yang dapat mencegah berbagai kerusakan dan bencana. Manusia sebagai citra Allah tampaknya di sini hanya mengusahakan hak ekonomis dan tidak melakukan kewajiban ekologisnya. Dengan berbuat seperti itu, manusia lalu menjadi pihak yang destruktif, yang membuat taman di Eden ini menjadi buruk, rusak dan hancur. Ini adalah karena kejatuhan dan doa manusia.


Pemahaman terhadap Bencana Alam yang Dahsyat

Terhadap bencana banjir, kekeringan atau kelaparan atau masalah-masalah lingkungan hidup seperti disebut di atas, manusia sering ditunjuk sebagai penyebabnya, yaitu karena kesalahannya mengelola alam; demikian juga, manusia ditunjuk sebagai penyebab kematian dan penderitaan akibat peperangan yang diciptakannya. Namun dalam kasus gempa dan terutama tsunami, orang tidak dapat secara langsung menunjuk kepada manusia sebagai penyebanya. Hal ini karena bencana itu adalah alamiah tapi begitu dahyat dan itu tidak dapat dikuasai, dicegah atau dikendalikan oleh manusia. Mungkin bisa dikatakan bahwa manusia dalam kasus bencana-bencana itu hanya dapat mengurangi akbibat-akibat buruknya.

Pencarian penyebab atau sumber bencana bencana itu dalam perenungan teologis membawa banyak orang pada kesimpulan bahwa itu adalah “kehendak Tuhan”; atau bahwa “Tuhan sedang murka”; “Tuhan sedang menghukum umatnya”; atau “Tuhan sedang menguji umatNya”. Terhadap korban bencana di Aceh, tidak sedikit orang lalu membuat kesimpulan bahwa karena Aceh adalah Serabi Mekah dan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat taat beribadah maka Tuhan menjatuhkan ujianNya itu kepada mereka. Dengan kata lain bahwa Tuhan menjatuhkan ujianNya yang begitu berat kepada masyarakat yang secara nyata taat beragama. Hal ini mengingat bahwa Aceh adalah provinsi di Indonesia yang secara resmi telah menerapkan Syariah Islam. Dengan kata lain, Aceh telah menunjukan ketaatan beragama secara kolektif, sebagai suatu masyarakat. Oleh karena itu, Tuhan memberikan ujian kepada mereka secaras kolektif juga, yaitu terhadap masyarakat. Pertimbangan-pertimbangan yang mirip juga berlaku bagi Jogja dan Pangandaran. Namun dengan maksud yang berbeda. Terhadap Jogja dan Pangandaran dikatakan bahwa Tuhan menghukum daerah itu karena ada dosa yang dilakukan oleh masyarakat itu. Umumnya dosa itu ditunjuk kepada sikap masyarakat yang membiarkan terjadinya kemaksiatan karena mengijinkan terjadinya praktek prostitusi di tempat-tempat atau hotel-hotel yang berdiri di sekitar pantai. Bahkan untuk Yogyakarta dan Jawa Tengah, ada pandangan (dari pihak Islam) yang menghubungkannya dengan murtadnya sebagain penduduk di situ karena telah berdiri begitu banyak gereja.

Pemahaman tentang bencana alam dahyat sebagai disebabkan oleh kekuatan yang adikodrati atau Tuhan juga yang dipahami oleh manusia yang mengalami bencana Air Bah seperti dicatat oleh kitab Kejadian pasal 6. Bahwa Bencana dahyat atau Air Bah itu merupakan bentuk hukuman Tuhan kepada manusia yang telah melakukan dosa. Di sini diperlihatkan pemahaman bahwa bencana terjadi karena kekuatan besar yang bukan dari manusia tetapi dari Allah; Allah yang sedang menghukum manusia.

Namun terhadap pandangan seperti itu, bahwa Allah pasti menghukum orang berdosa, perlu dipertanyakan: apakah semua manusia yang terkena hukuman itu adalah orang berdosa? Atau apakah selalu terjadi bahwa bencana atau penderitaan yang dialami oleh manusia adalah hukuman terhadap dirinya? Bagaimana dengan anak-anak atau bayi yang baru lahir atau orang yang yang bersih dari dosa, apakah mereka terkena hukuman juga? Pertanyaan pertanyaan ini dapat dijawab juga dengan menggunakan dasar Alkitab (kasus Ayub) bahwa bencana atau penderitaan manusia tidak selalu merupakan hukuman Allah akibat dari dosa manusia. Ini berarti bahwa kita tidak dapat semata-mata atau selalu melihat bahwa bencana alam itu adalah penghukuman Tuhan. Dalam kasus Ayub, bencana yang melanda dirinya atau penderitaanya terjadi bukan karena hukuman Tuhan tetapi pengalaman Ayub hendak memperlihatkan kuasa dan kebebasan Tuahn dalam melakukan segala sesuatu. Dengan demikian, sebagai manusia tentu kita hanya dapat mengatakan bahwa di balik semua bencana atau pnderitaan itu, ada maksud Tuhan yang indah bagi manusia. Yang penting bagi manusia adalah belajar dari berbagai bencana atau penderitaan itu. Di sini manusia dapat mempelajari dan menjadi sadar atas tindakan-tindakannya yang tidak berkenan kepada Tuhan, misalnya atau khususnya terhadap dunia atau lingkungan hidup ciptaan Tuhan.


Manusia-Gereja dan Tanggung Jawab terhadap Lingkungan Hidup

Berbicara tentang peran manusia dalam lingkungan hidup, gereja tentu termasuk di dalamnya. Gereja sebagai kumpulan orang-orang beriman kepada Kristus yang hadir dan beraktifitas di dunia ini tentu sedikit banyak mempunyai andil baik di dalam menjaga keberlangsungan atau pelestarian alam mapun di dalam perusakannya. Gereja, sebagaimana manusia pada umumnya, diberi kekuasaan dan kemampuan untuk mengelola, mengusahakan dan memanfaatkan dunia ciptaan Allah ini. Di samping itu, gereja juga sebagai mitra Allah, diberi tugas dan tanggung jawab untuk mengusahakan pemeliharaannya.

Untuk hak ekonomis, gereja hidup, memanfaatkan dan menikmati apa saja yang ada di dalam alam ini. Sebenarnya, bagi gereja, pengusahaan pemenuhan hak ekonomis mengandung di dalamnya dan dengan sendirinya berakibat pada tanggung jawab ekologis. Ini karena hak ekonomis, yaitu untuk pencapaian kemakmuran mengandung dua makna dan kepentingan, yaitu baik untuk kesejahteraan dan kenikmatannya sendiri maupun untuk kemuliaan Tuhan. Jadi di dalam mengusahakan pemenuhan kebutuhannya itu, gereja juga mengusahakan kemuliaan Tuhan. Ini dilakukan dengan memberi kesaksian bahwa usaha atau perbuatannya adalah baik dan yang mencerminkan bahwa gereja dipimpin oleh Tuhan. Dengan begitu, tentu Tuhan dimuliakan. Di sini ada tanggung jawab moral-spiritual ekstra bagi gereja sebagai umat atau anak-anak Tuhan yang telah ditebus dari dosa dan telah diselamatkan. Ini adalah tugas kesaksian; dan di sini mengandung ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan.

Tanggung jawab ekstra dari gereja di atas perlu dibedakan dari tanggung jawab ekologis. Kewajiban ekologis dilakukan sebagai tugas yang diberikan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Ini adalah tugas yang dilakukan gereja sebagai mitra Allah. Di sini gereja melakukan tugas karena kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan oleh Allah. Ini diberikan karena Tuhan mengakui dan menghargai kemampuan manusia untuk mengelola dan memelihara dunia. Pengakuan dan kepercayaan Tuhan ini tentunya adalah hal yang membanggakan gereja; bahwa gereja dihargai Tuhan dan dapat berbuat sesuatu yang berguna bagi alam ciptaan Tuhan. Mazmur 8:4-9 memperlihatkan pengakuan dan perlakuan Allah yang membanggakan manusia; bahwa Allah mengindahkannya dan bahkan membuatnya “hampir sama” dengan Allah.


Penutup

Gereja memiliki dasar dan dorongan untuk melakukan usaha pemeliharaan dan pelestarian alam. Pertama, kelestarian alam adalah kebutuhan manusia atau gereja (hak ekonomis), yang tentu secara terus menerus membutuhan hasil yang baik dan indah dari alam ini. Kedua, adanya tugas karena kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada manusia atau gereja sebagai mitraNya. Ketiga, menjaga kelestarian dan keindahan alam adalah bagian dari iman, yaitu sebagai kesaksian dari orang-orang yang telah diselamatkan, yang juga bertanggung jawab untuk membuat lingkungan hidup menjadi tempat orang merasakan keselamatan itu.

Dengan dasar dan dorongan di atas, gereja pertama-tama perlu betul-betul menyadari bahwa ia memerlukan alamlingkungan hidup yang baik; dan bahwa saat ini lingkungan hidup sedang terancam bahaya kerusakan dan kehancuran. Selanjutnya, gereja mengusahakan pengobatan atau perawatan, pemeliharaan dan pelestarian alam dengan membuat program-program yang berwawasan atau berorientasi ekologis. Sehubungan dengan ini, gereja perlu menyadarkan umat atau masyarakat untuk mengetahui dan menyadari kepentingan pemeliharaan lingkungan hidup. (Hal-hal praktis dapat dilakukan adalah seperti pembersihan dan penataan lingkungan hidup sekitar, kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, pemanfaatan air secara efektif, pengurangan polusi udara dengan merawat kendaraan atau dengan mengurangi penggunaan kendaraan-jadi menghemat bahan bakar, dsb.)

Demikianlah pokok-pokok pemikiran sehubungan dengan tanggung jawab manusia atau gereja terhadap lingkungan hidup.



Sumber-sumber bacaan:
Alkitab dengan Ayat-Ayat Referensi. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1974.
Barth, C., Theologia Perjanjian Lama 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.
Borrong, R. P., Etika Bumi Baru. Akses Etika dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1999.
Drummond-Celia Deanne, Teologi dan Ekologi: Buku Pegangan. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2000.
Hadiwijono, H., Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.
Riyanto, E. S., Penegakan Hukum Lingkungan dalam Perspektif Etika Bisnis di Indonesia.
Jakarta: Gramedia, 1999.
Seaton, Chr., Whose Earth? Cambridge: Crossway Books, 1992.
Stuekelberger, Chr., Lingkungan dan Pembangunan. Suatu Orientasi Etika Sosial.
Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 1998.
Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF, 1995 (cet. 6).
Verkuyl, J., Etika Kristen, Bagian Umum. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986 (cet.10). /srr
[1] Tulisan ini adalah hasil revisi dari makalah yang disampaikan pada acara Pembinaan Majelis GKPO Halim Perdana Kusuma, Maret 2006, dan sudah pernah diterbitkan dalam majalah Gema Wacana, Th. V, Juli-Agustus 2006 dan dilanjutkan pada edisi November-Desember 2006, di Jakarta, dan di Majalah Media Kawanua, Juni 2008, di Jakarta.
[2] Penulis adalah Pendeta dan Dosen Ilmu Agama-Agama dan Filsafat Timur.

2 comments:

  1. Apakah tidak ada usulan teologi lain selain teologi penciptaan dalam Alkitab pak? Dan apakah tidak bisa kita melihat bahwa gerakan teologi ramah lingkungan ini justru berkaitan dengan agama yang beranekaragam di Indonesia? Dialog seringkali berhenti dalam tahap ajaran tapi sama sekali tidak menyinggung tanggapan kritis terhadap alam dalam ajaran tiap agama...

    ReplyDelete